Tampilkan postingan dengan label protokol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label protokol. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Desember 2011

Konsep Subnetting




Subnetting adalah termasuk materi yang banyak keluar di ujian CCNA dengan berbagai variasi soal. Juga menjadi momok bagi student atau instruktur yang sedang menyelesaikan kurikulum CCNA 1 program CNAP (Cisco Networking Academy Program). Untuk menjelaskan tentang subnetting, saya biasanya menggunakan beberapa ilustrasi dan analogi yang sudah kita kenal di sekitar kita. Artikel ini sengaja saya tulis untuk rekan-rekan yang sedang belajar jaringan, yang mempersiapkan diri mengikuti ujian CCNA, dan yang sedang mengikuti pelatihan CCNA 1.

Sebenarnya subnetting itu apa dan kenapa harus dilakukan? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan analogi sebuah jalan. Jalan bernama Gatot Subroto terdiri dari beberapa rumah bernomor 01-08, dengan rumah nomor 08 adalah rumah Ketua RT yang memiliki tugas mengumumkan informasi apapun kepada seluruh rumah di wilayah Jl. Gatot Subroto.

Ketika rumah di wilayah itu makin banyak, tentu kemungkinan menimbulkan keruwetan dan kemacetan. Karena itulah kemudian diadakan pengaturan lagi, dibuat gang-gang, rumah yang masuk ke gang diberi nomor rumah baru, masing-masing gang ada Ketua RTnya sendiri-sendiri. Sehingga ini akan memecahkan kemacetan, efiesiensi dan optimalisasi transportasi, serta setiap gang memiliki previledge sendiri-sendiri dalam mengelola wilayahnya. Jadilah gambar wilayah baru seperti di bawah :

 
 
Konsep seperti inilah sebenarnya konsep subnetting itu. Disatu sisi ingin mempermudah pengelolaan, misalnya suatu kantor ingin membagi kerja menjadi 3 divisi dengan masing-masing divisi memiliki 15 komputer (host). Disisi lain juga untuk optimalisasi dan efisiensi kerja jaringan, Karena Jalur Lalu Lintas Tidak Terpusat Di Satu Network Besar, Tapi Terbagi Ke Beberapa Ruas-Ruas Gang. Yang pertama analogi Jl Gatot Subroto dengan rumah disekitarnya dapat diterapkan untuk jaringan adalah seperti NETWORK ADDRESS (nama jalan) (192.168.1.0) dan HOST ADDRESS (nomer rumah). Sedangkan Ketua RT diperankan oleh BROADCAST ADDRESS (192.168.1.255), yang bertugas mengirimkan message ke semua host yang ada di network tersebut.  

 
Masih mengikuti analogi jalan diatas, kita terapkan ke subnetting jaringan adalah seperti gambar di bawah. Gang adalah SUBNET, masing-masing subnet memiliki HOST ADDRESS dan BROADCAST ADDRESS.
 
Terus apa itu SUBNET MASK? Subnetmask digunakan untuk membaca bagaimana kita membagi jalan dan gang, atau membagi network dan hostnya. Address mana saja yang berfungsi sebagai SUBNET, mana yang HOST dan mana yang BROADCAST. Semua itu bisa kita ketahui dari SUBNET MASK-nya. Jl Gatot Subroto tanpa gang yang saya tampilkan di awal bisa dipahami sebagai menggunakan SUBNET MASK DEFAULT, atau dengan kata lain bisa disebut juga bahwa Network tersebut tidak memiliki subnet (Jalan tanpa Gang). SUBNET MASK DEFAULT ini untuk masing-masing Class IP Address adalah sbb :  
 
CLASS
OKTET PERTAMA
SUBNET MASK DEFAULT
PRIVATE ADDRESS
A
1-127
255.0.0.0
10.0.0.0-10.255.255.255
B
128-191
255.255.0.0
172.16.0.0-172.31.255.255
C
192-223
255.255.255.0
192.168.0.0-192.168.255.255

Materi ini diambil dari sini

Jumat, 16 Desember 2011

Protokol Komunikasi

Communication Protocol Stack


Protokol Komunikasi adalah format pesan digital dan aturan pertukaran informasi dan komunikasi antar sistem komputer dan telekomunikasi. Signaling, authentication, dan kemampuan mendeteksi dan mengatasi permasalahan dalam jaringan termasuk dalam sistem protokol.

Dalam sistem komputer, aturan tersebut dapat berupa algoritma maupun struktur data. Untuk menerapkan protokol dalam jaringan komputer, modul protokol dari perangkat lunak harus berinteraksi dengan framework yang terdapat dalam sistem operasi. Framework ini menerapkan fungsi networking dalam sistem operasi.  Framework yang terkenal ada 2 macam, yaitu TCP/IP dan OSI.

Dua framework ini lebih dikenal sebagai model standar dari protokol jaringan. Terdapat beberapa kebutuhan dasar dari protokol untuk mengatur komunikasi dalam jaringan. Yaitu :
  • Format data untuk pertukaran data. Data digital yang dipertukarkan dibagi menjadi beberapa fields. Setiap field berisi informasi yang relevan dengan protokol. Secara konseptual, data dibagi menjadi dua bagian yang disebut header area dan data area. Header area berisi informasi yang relevan dengan protokol. 
  • Format alamat untuk pertukaran data. Alamat digunakan untuk melakukan identifikasi pengirim dan penerima. Alamat yang disimpan dalam header area, mengijinkan penerima untuk memutuskan apakah data akan diproses atau diabaikan..
  • Pemetaan alamat. Terkadang protokol perlu untuk memetakan alamat dari suatu skema pada alamat skema yang lain. Sebagai contoh, untuk menerjemahkan Logical IP Address yang ditentukan oleh aplikasi ke alamat fisik Ethernet.
  • Routing. Ketika sebuah sistem tidak terhubung secara langsung. Diperlukan perantara untuk meneruskan pesan dari pengirim kepada penerima. Pada internet, untuk menghubungkan jaringan yang berbeda, digunakan router. 
  • Pendeteksian error pada transmisi. Pendeteksian error diperlukan utnuk mengetahui apakah data yang dikirimkan sama atau tidak ketika sebelum dikirim dan sesudah diterima. Biasanya diakhir paket daa, ditambahkan ID, sehingga penerima bisa mengenali error. Ketika ada error pada saat transmisi maka akan dilakukan pengiriman ulang.
  • Acknowledgements. Acknowledgements diperlukan untuk mengetahui apakah pengirim dan penerima sudah siap melakukan transmisi data atau tidak.
  • Loss of information-timeouts and retries. Paket bisa saja rusak atau hilang ketika dilakukan transmisi. Untuk mengatasi ini, di bawah beberapa protokol, dilakukan semacam laporan dari penerima bahwa paket data sudah diterima. Jika dalam kurun waktu yang sudah ditenttukan tidak ada laporan, maka diasumsikan paket gagal dikirim dan dilakukan pengiriman ulang.
  • Arah arus informasi. Arah arus informasi perlu diatasi jika transmisi terjadi satu arah pada satu waktu. hal ini biasa dikenal sebagai Media Access Control. pengaturan harus dibuat untuk mengakomodasi kasus ketika dua pihak ingin mendapatkan kontrol pada saat yang sama.
  • Sequence Control. Perlu dilakukan kontrol terhadap urutan dari paket transmisi yang dikirim kepada penerima. Karena pada saat pengiriman paket, bagian-bagian paket tidak datang secara berurutan, sehingga ketika sapai kepada penerima, diperlukan mekanisme untuk mengurutkan kembali bagian-bagian dari paket.
  • Flow Control. Flow control diperlukan disaat pengirim melakukan transmisi lebih cepat daripada penerima. Hal ini diperlukan karena terkadang disaat traffic transmisi padat, beberpa paket yang penting harus didahulukan. Sehingga beberapa paket yang dikirim terlalu cepat harus ditunda terlebih dahulu.
Memastikan data yang dikirim tetap utuh merupakan salah satu tantangan dari protokol. Paket data harus diatur dan dievaluasi untuk memastikan keutuhan data.